Home Qurantafsir Tafsir Ayat-ayat Ya Ayyuhalladzina Amanu, Ayat Ke-21 (Surat an Nisa`: 43)

Tafsir Ayat-ayat Ya Ayyuhalladzina Amanu, Ayat Ke-21 (Surat an Nisa`: 43)

by Ustadz Ivana

Larangan Salat dalam Keadaan Mabuk, dan Disyariatkannya Tayamum

A. Redaksi Ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.

Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (Surat an Nisa`: 43).

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

B. Tafsir:

1. Salat dalam Keadaan Mabuk

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”

Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwasanya seseorang dari kalangan Anshar memanggilnya (Ali) dan Abdurrahman bin Auf, lalu memberi minum (khamr/ minuman keras) kepada keduanya sebelum -khamr diharamkan. Kemudian Ali mengimami mereka salat Magrib, dan membaca Qul Yâ Ayyuhal Kâfirûn dengan keliru. Maka turunlah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” (HSR Abu Dawud).

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَام: ” أَنَّ رَجُلًا، مِنَ الْأَنْصَارِ دَعَاهُ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَسَقَاهُمَا قَبْلَ أَنْ تُحَرَّمَ الْخَمْرُ، فَأَمَّهُمْ عَلِيٌّ فِي الْمَغْرِبِ فَقَرَأَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ فَخَلَطَ فِيهَا، فَنَزَلَتْ {لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ} [النساء: 43]

Allah melarang para hambaNya yang beriman mendekati salat dalam keadaan mabuk, hingga mereka memahami apa yang mereka ucapkan. Ini adalah larangan memasuki tempat salat seperti masjid dan larangan mengerjakan.

Ayat ini menunjukkan bahwa khamr haram hanya ketika seseorang akan salat, dan halal di luar itu. Kemudian ayat ini dihapus dengan pengharaman khamr secara mutlak:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Surat al Maidah: 90).

Dengan demikian, ‘khamr haram hanya saat akan salat’ dihapus serta diganti dengan ‘khamr haram secara mutlak terutama saat mendekati waktu salat’.

“(Jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”

Jangan pula kalian mendekati masjid dalam keadaan junub, kecuali jika hanya lewat saja -bukan untuk berdiam di masjid.

2. Tayamum

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu”

Yang dimaksud dengan ‘tidak mendapat air’ adalah tidak ada air yang cukup untuk bersuci, atau ada tetapi tidak dapat digunakan karena orang sakit atau alasan lainnya.

Dan yang dimaksud dengan ‘menyentuh perempuan’ di ayat ini adalah hubungan badan, bukan sekedar bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Aisyah mengatakan:

لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي وَأَنَا مُضْطَجِعَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ القِبْلَةِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ غَمَزَ رِجْلَيَّ، فَقَبَضْتُهُمَا

“Sungguh aku telah melihat diriku ketika Rasulullah ﷺ salat sementara aku berbaring di antara beliau dan arah kiblat. Apabila beliau hendak sujud, beliau menekan kedua kakiku, maka aku menekuk keduanya” (HSR Bukhari).

Seandainya sekedar menyentuh kaki Aisyah itu membatalkan wudu, maka Rasulullah ﷺ tidak akan menyentuhnya.

Cara melakukan tayamum adalah seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Ammar bin Yasir: “Sesungguhnya cukup bagimu ‘begini’”, beliau menepukkan kedua telapak tangan ke tanah, meniup keduanya, lalu mengusapkan keduanya ke wajah dan kedua telapak tangan beliau” (HSR Bukhari dan Muslim). Itu adalah cara yang wajib. Dianjurkan untuk mengawali dengan bismillâh (dengan nama Allah) seperti ketika memulai wudu.

Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dinukil dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ mengajak Aisyah dalam salah satu perang (Perang Bani Mushthaliq), Aisyah kehilangan kalunya dan Rasulullah ﷺ beserta para sahabat mencari kalung hingga tidak sempat mencari air untuk bersuci. Aisyah mengatakan: “Maka Allah menurunkan Ayat Tayamum” (HSR Bukhari).

Sebagian ulama seperti Imam Qurthubi dan Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat yang dimaksud Aisyah adalah ayat ke-43 dari surat an Nisa` ini. Alasannya adalah karena ayat lain yang juga menyebut tayamum (surat al Maidah ayat ke-6) biasanya disebut sebagai Ayat Wudu.

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. Allah Maha Pemaaf, tidak semua dosa dihukum olehNya. Allah juga Maha Pengampun, mengampuni para hamba yang bertaubat kepadaNya.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

C. Faidah Terkait Ayat:

– Orang yang hendak menghadap Allah (melaksanakan salat) hendaklah bersih akal dan badannya

– Hal lain -selain khamr- yang juga menganggu kekhusyukan salat juga dilarang; seperti ingin makan, menahan buang air, dan sebagainya

– Haram melaksanakan bagi orang yang junub maupun wanita haid dan nifas, kecuali jika telah mandi atau -jika tidak dapat mandi- tayamum. Mereka juga dilarang memasuki masjid kecuali sekedar lewat

– Junub adalah orang yang telah berhubungan badan atau keluar mani dengan merasakan enak (bukan karena kelelahan atau sakit)

– Orang yang berhadats kecil diperintahkan melakukan  tayamum sebagai pengganti wudu

– Tayamum disyariatkan pada tahun 6 H ketika perang Bani Mushthaliq (Muraisi’)

– Tayamum hanya disyariatkan bagi umatnya Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada siapapun sebelumku: … Dijadikan untukku seluruh bumi (tanah) sebagai masjid (tempat salat) dan alat bersuci …” (HSR Bukhari dan Muslim)

– Allah yang memudahkan syariatNya, juga Maha Pemaaf terhadap kesalahan hambaNya.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

Referensi:

– 89 آية بتفسير العلامة السعدي وفوائد تدبرية من مصحف التدبر، ص69-73

– أحكام التيمم دراسة فقهيةمقارنة – رائد بن حمدان بن حميد الحازمي (رسالة ماجستير) ص40-42، و50، و549-550

– القول الأصيل فيما ورد في آيات يا أيها الذين آمنوا من تأويل – حكم بن عادل العَقيلي، ص158

– أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير – أبو بكر جابر الجزائري 1/482

– نداءات الرحمن لأهل الإيمان – أبو بكر جابر الجزائري، ص56-57

Related Articles

Leave a Comment