Home Akidah Makna Tauhid dan Pembagiannya

Makna Tauhid dan Pembagiannya

by Ustadz Ivana

Dalambuku diktat pesantren Muhammadiyah (kelas Madrasah Aliyah) dijelaskan tentang makna Tauhid dan Pembagiannya. Penjelasan yang jelas dan mudah dipahami.

📋 A. MAKNA TAUHID

Tawḥîd (التَّوْحِيْدُ) secara bahasa artinya adalah: Menjadikan (menyatakan) ‘satu’. Adapun secara istilah, Tauhid adalah: Mengesakan Allah (menyatakan Allah satu) dalam hal Rububiyyah, Uluhiyyah, serta Asma` wa Shifat. Ketiga isilah ini akan dibahas di poin B.

Tauhid atau Mengesakan Allah ini memiliki empat makna:

1. Kita meyakini bahwa Allah satu dan tidak ada sekutu bagiNya

2. Kita meyakini bahwa tidak ada apapun yang semisal atau serupa denganNya

3. Kita meyakini bahwa tidak ada apapun yang mengalahkanNya

4. Kita meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📋 B. PEMBAGIAN TAUHID

1. Tauhid Rububiyyah

Tawḥîd ar Rubûbiyyah (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) adalah keyakinan pasti bahwa Allah adalah Rabb bagi segala sesuatu. Rabb adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan, yang mematikan, yang menimpakan bahaya maupun manfaat, dan seterusnya.

Orang-orang musyrik dahulu mengakui Tauhid Rububiyyah ini. Allah berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’” (Surat az Zukhruf).

Tetapi pengakuan terhadap Tauhid Rububiyyah tidak membuat mereka menjadi muslim kecuali jika mereka juga mengakui Tauhid Uluhiyyah yaitu beribadah hanya kepada Allah saja.

2. Tauhid Uluhiyyah

Tawḥîd al Ulûhiyyah (تَوْحِيْدُ الْأُلُوْهِيَّةِ) atau Tauhid Ibadah adalah keyakinan pasti bahwa Allah saja yang berhak atas segala bentuk ibadah. Tauhid inilah yang yang digambarkan dalam kalimat Lâ Ilâha Illallâh (Tiada Tuhan Selain Allah), tidak ada sesembahan (Ilâh) yang berhak diibadahi selain Allah.

Tauhid Uluhiyyah merupakan tujuan utama dakwah para rasul, sesuai firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku’” (Surat al Anbiya`: 25).

Umumnya pelanggaran terhadap konsep Tauhid berbentuk Syirik dalam Ibadah yang merupakan pelanggaran terhadap Tauhid Uluhiyyah. Allah ceritakan umatnya Nabi Nuh:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’” (Surat Nuh: 23).

Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr adalah orang-orang shalih yang mati kemudian mereka dibuatkan gambar, dan lama kelamaan mereka disembah.

3. Tauhid Asma` wa Shifat

Asmâ` adalah nama-nama, dan Shifât adalah sifat-sifat. Tawḥîd al Asmâ` wa ash Shifât (تَوْحِيْدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ) adalah:

Menisbatkan nama-nama dan sifat-sifat yang Allah dan rasulNya tetapkan untukNya,

menafikan nama dan sifat yang Allah dan rasulNya nafikan, serta

mengakui nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan maknanya yang benar dan meresapi pengaruh nama dan sifat tersebut pada makhluk.

Tauhid Asma` wa Shifat juga bisa didefinisikan sebagai: Pembenaran pasti terhadap nama-nama dan sifat-sifat yang Allah dan rasulNya tetapkan untukNya; tanpa Taḥrîf, Ta’thîl, Takyîf, maupun Tamtsîl.

Taḥrîf adalah merubah sesuatu dari asalnya, seperti memaksakan arti ‘menguasai’ untuk ‘bersemayam’ pada firman Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (Surat Thaha: 5).

Ta’thîl adalah mengklaim bahwa Allah tidak memiliki sifat.

Takyîf adalah mendetailkan sifat Allah tanpa dalil.

Tamtsîl adalah menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk, misalnya adalah mengatakan bahwa Allah memiliki pendengaran yang persis seperti pendengaran manusia.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📚 Referensi:

Al ‘Aqîdah li ash Shaff al ‘Âsyir lil al Ma’âhid al Muḥammadiyyah yang diterbitkan oleh LPP PP Muhamadiyah hal. 38-40 dan 42-46.

Share agar kamu dapat pahala jariyah

[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA, J130546151124].

Related Articles

Leave a Comment