Home FikihKaidah Fikih Kaidah Fikih: Yang Boleh Karena Darurat Harus Sesuai Kebutuhan

Kaidah Fikih: Yang Boleh Karena Darurat Harus Sesuai Kebutuhan

by Ustadz Ivana

Kaidah ini merupakan aturan terhadap kaidah sebelumnya, yaitu Darurat Membolehkan Larangan.

๐Ÿ“‹ A. REDAKSI, DALIL, DAN KETERANGAN KAIDAH

Kaidah ini berbunyi:

ู…ูŽุง ุฃูุจููŠู’ุญูŽ ู„ูู„ุถูŽู‘ุฑููˆู’ุฑูŽุฉู ูŠูู‚ูŽุฏูŽู‘ุฑู ุจูู‚ูŽุฏูŽุฑูู‡ูŽุง

โ€œSesuatu yang dibolehkan karena darurat, harus diukur sesuai tingkat kedaruratannyaโ€.

Kaidah ini juga muncul dengan redaksi:

ุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆู’ุฑูŽุงุชู ุชูู‚ูŽุฏูŽู‘ุฑู ุจูู‚ูŽุฏูŽุฑูู‡ูŽุง

โ€œDarurat diukur sesuai tingkat kedaruratannyaโ€.

Kaidah ini adalah ketentuan untuk Kaidah Fikih โ€œDarurat Membolehkan Laranganโ€. Maksud kaidah ini adalah bahwa larangan yang dibolehkan karena darurat itu, boleh sebatas menyelesaikan darurat tersebut. Lebih dari itu hukumnya haram.

Allah berfirman:

ููŽู…ูŽู†ู ุงุถู’ุทูุฑูŽู‘ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุจูŽุงุบู ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽุงุฏู ููŽู„ูŽุง ุฅูุซู’ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

โ€œTetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginyaโ€ (Surat al Baqarah: 173).

โ€œMelampaui batasโ€ adalah melakukan hal yang dilarang padahal daruratnya sudah selesai.

โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข

๐Ÿ“‹ B. CONTOH PENERAPAN KAIDAH

– Orang yang darurat harus makan bangkai agar tidak mati kelaparan, dia hanya boleh memakannya sekedar agar tidak mati; tidak boleh memakannya hingga kenyang

– Dokter yang terpaksa melihat aurat pasiennya, hanya boleh melihat sebatas daruratnya

– Jika orang kafir menjadikan tawanan muslim sebagai tameng hidup (tatarrus), maka boleh menembakkan amunisi yang membunuh mereka semua. Ini dibolehkan karena darurat, yaitu agar pasukan kafir tidak membunuh kaum muslimin melebihi jumlah muslim yang mereka jadikan tameng. Amunisi ditembakkan ke arah mereka hanya dengan niat membunuh yang kafir saja, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam situasi ini pihak mujahid tidak wajib membayar diyat maupun kaffarat.

โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข

๐Ÿ“š Referensi:

Al Qawรขโ€™id al Fiqhiyyah bayn al Ashรขlah wa at Tawjรฎh karya Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail hal. 78

Al Wajรฎz fรฎ รŽdhรขแธฅ al Qawรขโ€™id al Fiqhiyyah karya Dr. Muhammad  Shidqi al Burnu hal. 239-240

Al Wajรฎz fรฎ Syarแธฅ Qawรขโ€™id al Fiqh al Fiqhiyyah karya Dr. Abdul Karim Zaidan, kaidah ke-23.

Share agar kamu dapat pahala jariyah

[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA,ย Sb110746110125].

Related Articles

Leave a Comment