Dua hal ini sering dianggap terlarang dilakukan jika mengarah ke kiblat. Benarkah terlarang?
๐ A. HUKUM MELUDAH KE ARAH KIBLAT
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meludah ke arah kiblat di luar salat. kami mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa larangan meludah ke arah kiblat hanya berlaku bagi orang yang sedang mengerjakan salat, hadits yang melarangnya secara mutlak dibatasi (di-taqyรฎd) dengan hadits yang melarangnya hanya bagi orang yang sedang salat.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ู ููู ุชููููู ุชูุฌูุงูู ุงููููุจูููุฉู ุฌูุงุกู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุชููููููู ุจููููู ุนููููููููู
โBarang siapa meludah ke arah kiblat, maka dia akan datang pada hari Kiamat dengan kondisi ludahnya ada di depan kedua matanyaโ (HSR Abu Dawud).
ุฅูุฐูุง ููุงู ู ุฃูุญูุฏูููู ู ุฅูููู ุงูุตูููุงูุฉูุ ูููุงู ููุจูุตููู ุฃูู ูุงู ูููุ ููุฅููููู ูุง ููููุงุฌูู ุงูููููู ู ูุง ุฏูุงู ู ููู ู ูุตููููุงููุ ูููุงู ุนููู ููู ููููููุ ููุฅูููู ุนููู ููู ูููููู ู ูููููุงุ ููููููุจูุตููู ุนููู ููุณูุงุฑูููุ ุฃููู ุชูุญูุชู ููุฏูู ูููุ ููููุฏูููููููุง
โJika salah seorang diantara kalian berdiri mengerjakan salat maka janganlah meludah ke arah depannya, karena sesungguhnya dia sedang bermunajat kepada Allah selama masih di tempat salatnyaโ (HSR Bukhari).
Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan: โSabda beliau ๏ทบ โselama dia masih di tempat salatnyaโ berkonsekuensi pengkhususan larangan (meludah ke arah kiblat) apabila sedang salat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al Barrak mengatakan bahwa meskipun boleh untuk meludah ke arah kiblat di luar salat, jika kita menghindarinya itu lebih baik karena hadis di atas telah menunjukkan bahwa kiblat memiliki sisi kemuliaan.
โขโโโโโขโฟโโฟโขโขโฟโโฟโขโโโโโข
๐ B. HUKUM MENJULURKAN KAKI KE ARAH KIBLAT
Tidak ada dalil yang melarang untuk menjulurkan kaki ke arah kiblat, dan menjulurkan kaki ke arah kiblat bukanlah suatu penghinaan atau tindakan yang tidak sopan.
Hanya saja, ada sebagian ulama yang memakruhkan menjulurkan kaki ke arah kiblat jika posisi kita dekat dengan Ka’bah.
โขโโโโโขโฟโโฟโขโขโฟโโฟโขโโโโโข
๐ Referensi:
– Fatรขwรข Samรขแธฅah asy Syaykh โAbdillah ibn แธคumayd (Fatwa-fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid) hal. 144
– Fatแธฅ al Bรขrรฎ bi Syarแธฅ Shaแธฅรฎแธฅ al Bukhรขriyy karya al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani -cet/ Dar Thaybah- II/139
– sh-albarrak.com/fatwas/5253.
Share agar kamu dapat pahala jariyah
[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA,ย Sb271046260425].
