Pertanyaan: Ada yang mengatakan bahwa wali tingkat tinggi sudah tidak wajib salat (dan kewajiban lainnya). Itu bukan karena kehendaknya sendiri tetapi ketentuan dari Allah. Benarkah demikian?
๐ JAWABAN:
Yang disebut sebagai Wali Allah hanyalah orang yang beriman dan bertakwa. Allah berfirman:
ุฃูููุง ุฅูููู ุฃูููููููุงุกู ุงูููููู ููุง ุฎููููู ุนูููููููู ู ููููุง ููู ู ููุญูุฒูููููู (62) ุงูููุฐูููู ุขู ููููุง ููููุงูููุง ููุชููููููู (63)
โIngatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwaโ (Surat Yunus: 62-63).
Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya; Dan di antara sifat utama mereka adalah: โKitab (Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalatโ (Surat al Baqarah 2-3).
Maka tidak heran jika kita lihat bahwa Rasulullah ๏ทบ, para sahabat, dan para wali Allah setelah mereka adalah orang-orang yang baik ibadahnya, termasuk salat. Bahkan, Rasulullah ๏ทบ dahulu menunaikan salat malam hingga kaki beliau bengkak sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari.
โขโโโโโขโฟโโฟโขโขโฟโโฟโขโโโโโข
Oleh sebab itu, jika ada orang dianggap wali tetapi perilakunya tidak mencerminkan pengamalan dan perjuangan Islam; maka dia bukan Wali Allah.
โขโโโโโขโฟโโฟโขโขโฟโโฟโขโโโโโข
๐ Referensi:
– Tanya Jawab Agama I/25-26, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
Share agar kamu dapat pahala jariyah
[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA atas nama MTT PDM Kab. Blitar, R260345111023].
