Kewajiban Menerima Takdir Allah
A. Redaksi Ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: ‘Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh’. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan” (Surat Ali Imran: 156).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
B. Tafsir:
Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman meniru sikap menyerupai orang-orang kafir dan munafik, agar tidak menjadi seperti mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka” (HSR Ahmad dan Abu Dawud).
Di antara hal yang secara khusus kita dilarang menyerupai mereka adalah ucapan terhadap kawan mereka yang mati saat safar atau perang: “Seandainya tidak pergi pasti tidak mati”.
Ucapan ini menunjukkan kebodohan mereka, karena kematian tetap akan menghampiri jika waktunya telah tiba. Allah berfirman:
قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ
“Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh’” (Surat Ali Imran: 154).
Ucapan ini juga menjadi sebab penyesalan yang tidak berguna, bahkan menjadi sebab bertambahnya kesedihan mereka.
“Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan”. Maka gunakanlah kesempatan hidup di dunia ini untuk beramal shalih, agar mendapatkan balasan yang baik di akhirat.
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
C. Faidah Terkait Ayat:
– Larangan menyerupai orang-orang kafir dalam hal penampilan, perilaku, dan cara berpikir
– Tidak menerima takdir Allah adalah sifat warisan dari orang-orang munafik
– Menerima takdir sebagai keputusan Allah adalah jalan menjadi orang yang bersabar
– Seharusnya seorang mukmin itu ‘mengambil sebab’ (berusaha secara teknis) dengan tetap bertawakal kepada Allah
– Seharusnya orang beriman itu menerima takdir Allah, agar tidak putus asa karena apa yang telah terjadi
– Perhatikan amal kita, karena setiap amal akan dibalas oleh Allah
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
Referensi:
– 89 آية بتفسير العلامة السعدي وفوائد تدبرية من مصحف التدبر، ص59-60
– نداء الله للمؤمنين في القرآن الكريم – علي بن نايف الشحود، ص95-96
– نداء رب العالمين لعباده المؤمنين – محمد بن علي العرفج، ص118-120
– نداءات الرحمن لأهل الإيمان – أبو بكر جابر الجزائري، ص46-47
