-Dari 1. Kitab Thaharah, 1. Bab Bersuci dari Buang Air-
1. كِتَابُ الطَّهَارَةِ – 1. بَابُ الْاسْتِطَابَةِ
A. Redaksi Hadits:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْحَارِثِ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلا يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلاءِ بِيَمِينِهِ وَلا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ
5/17. Dari Abu Qatadah Harits bin Rib’i al Anshari radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda:
“Jangan sesekali salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya ketika kencing, jangan bersuci dari buang air dengan tangan kanannya, dan jangan bernafas dalam wadah minum” (HSR Bukhari dan Muslim).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
B. Sahabat yang Meriwayatkan Hadits Ini: Abu Qatadah Harits bin Rib’i al Anshari al Kahazraji
Dia menghadiri Perang Uhud dan perang lain bersama Rasulullah ﷺ, dan para ulama berbeda pendapat apakah dia mengikuti perang Badar atau tidak. Dahulu dia menahan Nabi ﷺ agar tidak jatuh dari kuda tunggangan beliau karena tertidur. Setelah bangun beliau mengucapkan kepadanya:
حَفِظَكَ اللهُ بِمَا حَفِظْتَ بِهِ نَبِيَّهُ
“Semoga Allah menjagamu karena kamu menjaga nabiNya” (HSR Muslim). Abu Qatadah wafat pada tahun 54 H (af).
Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:
كَانَ خَيْرَ فُرْسَانِنَا الْيَوْمَ أَبُو قَتَادَةَ، وَخَيْرَ رَجَّالَتِنَا سَلَمَةُ
“Pasukan berkuda terbaik kita hari ini adalah Abu Qatadah dan pasukan berjalan kaki (infanteri) terbaik kita adalah Salamah (bin Akwa’)” (HSR Muslim) (hl).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
C. Tema Hadits: Beberapa adab islami dalam hal buang air (hl).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
D. Kosa Kata:
– Dan jangan bernafas (وَلا يَتَنَفَّسْ): Maksudnya adalah mengeluarkan nafas dari tenggorokannya (bs).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
F. Makna Umum:
Hadis ini menyebutkan tiga adab yang berkaitan dengan larangan. Yang pertama dan yang kedua terkait dengan adat buang air, dan yang ketiga adalah adab minum.
Kelihatannya kaliat-kalimat hadits ini dijadikan satu oleh Qatadah dari dua hadits, sebab tidak ada kaitan antara adab buang air dan adab minum -walau sama-sama berurusan dengan air- (br).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
F. Faidah Terkait Hadits Ini:
– Menurut mayoritas ulama, makruh memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air karena kemuliaan tangan kanan. Ada pula yang mengatakan haram (sd ut hl)
– Haram bersuci (cebok) dengan tangan kanan setelah buang air, baik itu menggunakan dengan air maupun batu (br)
– Dalam hal yang yang juga kotor -tetapi tidak najis- juga hendaklah menggunakan tangan kiri (bs), seperti membersihkan kotoran hidung dan telinga
– Meskipun menggunakan tangan kanan secara umum baik, tapi ada penggunaan tangan kanan yang dilarang (br) seperti untuk memegang kemaluan dan bersuci
– Hadis ini merupakan perkecualian terhadap perkataan Aisyah: “Dahulu Rasulullah ﷺ suka mendahulukan yang kanan saat menggunakan sandal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusan beliau” (HSR Bukhari dan Muslim) (br)
– Di antara adab minum adalah tidak bernafas dalam wadah air dengan menjauhkannya ketika bernafas (br), karena bernafas dalam air bisa mencemari air (sd)
– Menjaga kebersihan, khususnya dalam hal makanan dan minuman (bs)
– Di antara faidah bernafas di luar wadah air (termasuk gelas):
– Lebih mencegah kekotoran wadah air dari sesuatu yang keluar dari mulut dan hidung
– Lebih tenang
– bermanfaat untuk lambung dan hati (hl).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
Referensi:
– sd, Abdurrahman as Sa’di: التعليقات على عمدة الأحكام، عبد الرحمن بن ناصر السعدي، الحديث الـ17
– br, Abdurrahman al Barrak: العدة في فوائد أحاديث العمدة، عبد الرحمن بن ناصر البراك، الحديث الـ17
– ut, Utsaimin: تنبيه الأفهام شرح عمد الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، الحديث الـ17
– bs, Abdullah Bassam: تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن آل بسام، الحديث الـ17
– hl, Salim al Hilali: زبدة الأفهام بفوائد عمدة الأحكام، أبو أسامة سليم بن عيد الهلالي، الحديث الـ17
– af, Abdullah al Fauzan: مورد الأفهام في شرح عمدة الأحكام ج1، عبد الله بن صالح الفوزان، الحديث الـ17.
