Home FikihKaidah Fikih Kaidah Fikih: Jika Penghalang Telah Hilang

Kaidah Fikih: Jika Penghalang Telah Hilang

by Ustadz Ivana

Kaidah ini berkaitan dengan hal mubah (halal) yang menjadi terlarang karena suatu sebab, lalu sebabnya hilang. Kaidah ini merupakan kebalikan dari kaidah yang diposting sebelumnya, yaitu: Sesuatu yang dibolehkan karena ada uzur (alasan syarโ€™i), hukum bolehnya menjadi gugur dengan hilangnya uzur.

๐Ÿ“‹ A. REDAKSI, MAKNA, DAN DALIL KAIDAH

Kaidah Fikih ini berbunyi:

ุฅูุฐูŽุง ุฒูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู†ูุนู ุนูŽุงุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู…ู’ู†ููˆู’ุนู

โ€œJika penghalang telah hilang maka yang dihalangi kembaliโ€.

Yang dimaksud dengan โ€˜penghalangโ€™ di sini adalah hal baru (bukan yang selalu ada sejak awal) yang menghalangi penerapan hukum. Misalnya adalah haid merupakan โ€˜hal baruโ€™ menghalangi penerapan hukum โ€˜wajib salatโ€™.

Makna kaidah ini adalah bahwa sesuatu yang pada asalnya dibolehkan dan disyariatkan akan menjadi dilarang jika ada penghalang; dan ia akan kembali dibolehkan apabila penghalang tersebut hilang. Hal ini karena โ€˜hukum ada sesuai dengan illat (sebab)nyaโ€™, jika sebabnya hilang maka hukumnya gugur.

 Di antara dalil untuk kaidah ini adalah:

1. Firman Allah:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูุฐูŽุง ู†ููˆุฏููŠูŽ ู„ูู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ู…ูู†ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ููŽุงุณู’ุนูŽูˆู’ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฐูŽุฑููˆุง ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุนูŽ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ (9) ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽุชู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ููŽุงู†ู’ุชูŽุดูุฑููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงุจู’ุชูŽุบููˆุง ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ (10)

โ€œWahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui [9] Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntungโ€ (Surat al Jumuah: 9-10).

Di ayat ini Allah menjelaskan bahwa azan dan salat Jumat menghalangi hukum bolehnya jual beli. Apabila azan dan salat Jumat telah selesai, maka hukum bolenya jual beli kembali berlaku.

2. Sabda Rasulullah ๏ทบ tentang bawang putih:

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุจูŽู‚ู’ู„ูŽุฉู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุจูŽู†ูŽู‘ ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽู†ูŽุง ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุฑููŠุญูู‡ูŽุง

โ€œBarangsiapa makan dari tanaman ini maka janganlah sesekai mendekati masjid-masjid kami hingga hilang baunyaโ€ (HSR Bukhari).

Di hadits ini, Rasulullah ๏ทบ menjelaskan bahwa penghalang bolehnya masuk masjid adalah bau. Maka jika baunya telah hilang (atau tidak berbau sejak awal) boleh untuk masuk masjid.

Kaidah ini adalah kebalikan dari Kaidah Fikih: Sesuatu yang dibolehkan karena ada uzur (alasan syarโ€™i), hukum bolehnya gugur dengan hilangnya uzur.

โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข

๐Ÿ“‹ B. CONTOH PENERAPAN

Di antara contoh penerapan kaidah ini adalah:

1. Hal-hal yang dilarang karena haid (salat, thawaf, puasa, dan hubungan suami istri) menjadi kembali disyariatkan dengan berhentinya haid

2. Wanita yang haram dinikahi untuk sementara -seperti saudara dan bibinya istri-, menjadi boleh dinikahi jika penghalangnya hilang dengan berpisahnya si laki-laki dari istri tersebut

3. Wanita yang ditalak memiliki hak asuh anak, dan hak tersebut hilang (terhalangi) apabila dia menikah dengan lelaki lain yang bukan bapaknya si anak.

Apabila wanita tersebut ditalak (talak bain) oleh suami keduanya, maka dia kembali mendapatkan hak asuh anak hasil pernikahan dengan suami pertamanya tadi.

โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ€ขโœฟโโœฟโ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข

๐Ÿ“š Referensi:

Al Wajรฎz fรฎ Syarแธฅ Qawรขโ€™id al Fiqh al Fiqhiyyah karya Dr. Abdul Karim Zaidan, kaidah ke-26

Maโ€™lamah Zรขyid li al Qawรขโ€™id al Fiqhiyyah wa al Ushรปliyyah XI/157-163, di bagian yang ditulis oleh Dr. Muhammad Khalid Abdul Hadi

Mawsรปโ€™ah al Qawรขโ€™id al Fiqhiyyah karya Dr. Muhammad Shidqi al Burnu (ulama asal Gaza) I/316.

Share agar kamu dapat pahala jariyah

[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA,ย Sn071146050525].

Related Articles

Leave a Comment