Home Akidah Makna dan Syarat-Syarat Kalimat Tauhid

Makna dan Syarat-Syarat Kalimat Tauhid

by Ustadz Ivana

Kalimat Tauhid bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi perlu dipahami makna dan syarat-syaratnya serta pastinya harus ditaati dalam kehidupan.

📋 A. MAKNA KALIMAT TAUHID

Makna Kalimat Tauhid لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ “Tiada Tuhan Selain Allah” adalah: Tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Allah; karena Allah adalah satu-satunya yang menciptakan, memberi rezeki, memiliki, mengatur…dst.

Di dunia ini ada banyak hal yang dijadikan sesembahan dan diibadahi, tetapi hanya Allah saja yang diibadahi dengan hak.

Ibadah secara bahasa artinya adalah tunduk dan merendahkan diri di hadapan pihak yang diibadahi, juga bisa berarti ketaatan. Adapun definisi ibadah secara istilah adalah sebutan untuk ucapan dan perbuatan yang lahir maupun batin, yang disukai serta diridhai oleh Allah.

Kalimat Tauhid ini merupakan pemisah antara iman dengan kekufuran.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📋 B. 6 SYARAT KALIMAT TAUHID

Tidak semua orang yang mengucapkan kalimat ini menjadi mukmin di hadapan Allah. Orang-orang munafik disebut Allah: “(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (Surat an Nisa: 145), padahal mereka juga mengucapkan Kalimat Tauhid.

Agar kalimat ini menjadikan seseorang sebagai mukmin, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Dalam buku ajar Akidah kelas 11 pesantren yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan dari Pusat Muhamadiyah disebutkan 7 Syarat Kalimat Tauhid, yaitu:

1. Ilmu, lawan dari tidak tahu

Orang yang mengucapkan Kalimat Tauhid harus mengerti maknanya. Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi  orang yang mengakui haq dan mereka mengetahui” (Surat Muhammad: 19).

Makna ‘mengakui’ adalah mengakui Lâ ilâha illallâh (tiada tuhan selain Allah), dan ‘mereka mengetahu’ adalalah memahami dengan hati tentang apa yang diucapkan oleh lisan mereka.

2. Yakin, lawan dari ragu

Harus meyakini dengan pasti, bukan hanya dugaan kuat. Orang yang tidak meyakini maknanya tidak akan mendapatkan manfaat darinya. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu” (Surat al Hujurat: 15).

3. Menerima konsekuensinya, lawan dari menolak

Konsekuensi Kalimah Tauhid ini adalah: Beribadah hanya kepada Allah saja, dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.

Jika seseorang hanya mengucapkan Kalimah Tauhid tetapi menolak konsekuensinya, maka dia termasuk yang difirmankan oleh Allah:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36)

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri (35) dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’” (Surat as Saffat 35-36).

4. Tunduk pada makna kalimat ini, lawan dari mengabaikan

Allah berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh” (Surat Luqman: 22).

“Buhul tali yang kokoh” adalah Lâ ilâha illallâh, dan “menyerahkan dirinya” adalah tunduk kepada Allah dengan ikhlas kepadaNya.

5. Jujur, lawan dari dusta

Orang yang mengucapkan Kalimat Tauhid ini harus dengan jujur dari hatinya, jika tidak jujur maka dia adalah orang munafik. Allah berfirman tentang orang-orang munafik:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

“ Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman’” (Surat al Baqarah: 8).

6. Ikhlas, lawan dari syirik

Ikhlas adalah mengucapkan Kalimat Tauhid ini karena Allah, bukan karena mengejar dunia ataupun kesan baik dari manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan Lâ ilâha illallâh, yang dengan itu dia mengharap wajah Allah” (HSR Bukhari dan Muslim).

7. Cinta, lawan dari benci

Yaitu mencintai kalimat ini dan maknanya, selain juga mencintai orang-orang yang mengucapkan dan mengamalkannya. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Surat al Baqarah 165).

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📋 C. HUKUM MEMPELAJARI DAN MENGAMALKAN SYARAT 7 KALIMAT TAUHID

Mempelajari syarat-syarat Kalimat Tauhid hukumnya adalah Fardu Kifayah, sedangkan hukum melaksanakannya adalah Fardu Ain. Bisa jadi seseorang tidak mengetahui detail teorinya tetapi bisa mempraktekkannya. Misalnya, ada banyak orang yang kesulitan saat ditanya apa saja Rukun dan Syarat Sah Salat, tetapi mengerti bahwa salatnya orang yang belum berwudu (tanpa uzur) tidak sah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

“Wajib atas seluruh umat Islam untuk menerapkan kalimat ini dengan menjaga syarat-syarat tersebut. Ketika seorang muslim mengetahui maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia benar-benar muslim yang haram darah dan hartanya meskipun tidak mengetahui rincian syarat-syarat tersebut.”

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📚 Referensi:

Al ‘Aqîdah li ash Shaff al Ḥâdi ‘Asyar lil al Ma’âhid al Muḥammadiyyah yang diterbitkan oleh LPP PP Muhamadiyah hal. 98-101

Mafhûm al ‘Ibâdah (artikel) karya Syaikh Aiman asy Sya’ban

Majmû’ Fatâwâ wa Maqalât Mutanawwi’ah karya Syaikh Bin Baz VII/58

Syarḥ Kasyf asy Syubuhât karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir al Barrak hal. 22.

Share agar kamu dapat pahala jariyah

[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA, K070446101024].

Related Articles

Leave a Comment