Home Lain-lain 3 Sebab Riya dan 3 Obatnya

3 Sebab Riya dan 3 Obatnya

by Ustadz Ivana

Di antara hal unik yang sering terjadi adalah berpura-pura mengabdi kepada Allah, padahal karena ingin sesuatu dari orang lain. Apa penyebabnya dan bagaimana mengobatinya?

📋 A. DEFINISI RIYA

Riyâ` (الرِّيَاءُ) adalah sikap hamba melakukan ibadah -yang harusnya untuk mendekatkan diri kepada Allah- demi tujuan duniawi. Imam Qurthubi menambahkan: “Pangkalnya adalah mencari kedudukan di hati orang lain”. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani mendefinisikan Riya sebagai: “Menampakkan ibadah agar dilihat orang lain, supaya mereka memujinya”.

Adapun perbedaan Riya dengan Sum’ah (السُّمْعَةُ): bahwa Riya adalah beramal untuk dilihat orang lain, sedangkan Sum’ah adalah beramal supaya didengar orang lain -dengan tujuan duniawi. Sehingga, Sum’ah hanya dapat dilakukan dalam hal-hal yang bisa didengar, semisal tilawah dan zikir.

Adapun Imam ‘Izz bin ‘Abdussalam mengatakan bahwa Riya adalah melakukan amal untuk dilihat orang lain (dengan motif duniawi), sedangkan Sum’ah adalah menceritakan amal yang telah dilakukan.

Karena Riya dan Sum’ah memiliki substansi yang sama yaitu ‘menampakkan ibadah untuk mendapat keuntungan dari orang lain (bukan dari Allah)’, maka setiap pembahasan tentang Riya juga berlaku pada Sum’ah.

Adapun jika seseorang menampakkan ibadahnya agar ditiru oleh orang lain, maka itu boleh dan bahkan lebih utama asalkan benar-benar berniat karena Allah.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📋 B. SEBAB RIYA

Sebagian ulama mengatakan bahwa segala sebab Riya berpangkal pada 3 hal, yaitu:

1. Ingin Pujian (Kesan Baik)

Termasuk juga: Ingin disegani, dianggap penting dan berjasa, terlihat lebih baik daripada orang lain, dan ditokohkan di komunitas. Imam Sufyan ats Tsauri mengatakan:

حُبُّ الرِّيَاسَةِ أَعْجَبُ لِلرَّجُلِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

“Senang ketokohan lebih digemari lelaki daripada emas dan perak”.

2. Menghindari Celaan (Kesan Buruk)

Termasuk juga: Takut terlihat buruk, takut dianggap kalah saing, ingin dianggap ‘tidak terlalu buruk’.

3. Mengharap Sesuatu (harta, jabatan, dll) dari Orang Lain

Sering dilakukan oleh pihak yang merasa lemah (membutuhkan) di hadapan orang yang dianggap lebih kuat dan bisa membantunya.

Tiga hal ini bukan hanya mendorong seseorang untuk Riya dan Sumah dalam beramal, tetapi juga bisa mendorong orang untuk pura-pura beramal dan berjasa padahal tidak melakukan apapun.

Dan jika kita perhatikan, ketiga hal ini berpangkal pada satu hal, yaitu ‘menggantungkan harapan kepada manusia’.

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📋 C. OBAT RIYA

Di antara Obat Riya adalah mengingat bahwa:

1. Riya Menggugurkan Pahala Amal

Allah berfirman -hadits qudsi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Barangsiapa melakukan amal dengan menyekutukan yang lain bersamaKu, maka aku tinggalkan dia bersama sekutunya” (HSR Muslim).

2. Allah Mengetahui Ketika Kita Sedang Riya

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ

“Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu” (Surat al Ahzab: 51).

Allah mengetahui isi hati kita, termasuk jika hati kita menginginkan kesan baik dari orang lain karena ibadah kita. Marilah kita malu kepada Allah.

3. Manusia Jarang Menghargai Kebaikan

Allah berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterimakasih (bersyukur)” (Surat Saba`: 13).

Jika kepada Allah pun manusia jarang bersyukur, bagaimana kita bisa mengharap mereka menghargai amal yang kita riya-kan? Niatkan saja amalmu karena Allah yang pasti membalas amalmu dengan lebih baik:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Surat at Taubah 120).

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•

📚 Referensi:

Aḥsan al Aqwâl fi Rasâil al Jawwâl karya Syaikh Abu Abdillah Faishal bin Abduh al Hasyidi hal. 65

Az Zawâjir ‘an Iqtirâf al Kabâir karya Imam Ibnu Hajar al Haitami I/39

Ḥadîts al Yawm karya Dr. Abdullah bin Muhammad Nahari hal. 13

Maqâshid al Mukallafîn fi ma Yuta’abbad bih Rabb al ‘Âlamîn karya Dr. Umar Sulaiman al Asyqar hal. 436-437

Taammulât Qur`âniyyah karya Syaikh Muhammad bin Fauzi al Ghamidi hal. 126.

Share agar kamu dapat pahala jariyah

[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA, K120146180724].

Related Articles

Leave a Comment