Ada 4 fase pensyariatan Puasa Tasua dan Asyura:
📋 A. RASULULLAH ﷺ BERPUASA ASYURA DI MAKKAH
Sejak dahulu, orang-orang Quraisy telah mengenal Puasa Muharam. Bisa jadi mereka mengenalnya dari syariat terdahulu. Ada pula yang mengatakan bahwa dahulu mereka melakukan dosa yang menyesakkan dada mereka, lalu ada yang mengatakan kepada mereka: “Berpuasalah di Hari Asyura maka dosa itu akan terhapus”.
Rasulullah ﷺ ketika masih di Makkah juga berpuasa Asyura, tanpa memerintahkannya kepada para sahabat. beliau baru memerintahkannya setelah hijrah ke Madinah.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan: “Dahulu pada hari Asyura orang-orang Quraisy berpuasa di masa jahiliyah. Rasulullah ﷺ juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau berpuasa dan memerintahkan (mewajibkan) puasa pada hari itu. Lalu ketika puasa Ramadan diwajibkan, beliau meninggalkan (tidak mewajibkan puasa) hari Asyura, yang ingin berpuasa maka berpuasa dan yang ingin tidak berpuasa maka tidak berpuasa” (HSR Bukhari).
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
📋 B. RASULULLAH ﷺ MEWAJIBKAN PUASA ASYURA DI AWAL FASE MADINAH
Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa Asyura sebagai bentuk syukur karena Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari Firaun. Maka beliau mewajibkan para sahabat untuk berpuasa Asyura dengan hukum wajib. Menurut website Vetogate, hingga hari ini banyak kalangan Yahudi masih ‘berpuasa Asyura’ meskipun tampaknya mereka telah merubah tanggalnya.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan: “Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di Hari Asyura. Ketika ditanya tentangnya, mereka menjawab: ‘Inilah hari di mana Allah memenangkan Musa dan Bani Israil atas Firaun, maka kami berpuasa di hari ini untuk memuliakannya’. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian’, beliaupun memerintahkan puasa Asyura” (HSR Bukhari Muslim).
Dalam riwayat lain: …Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari agung di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta menenggelamkan Firaun dan kaumnya. Maka Musa berpuasa di hari itu sebagai bentuk syukur, dan kami juga berpuasa’… (HSR Muslim).
Mengapa Rasulullah menerima klaim Yahudi tentang sebab mereka berpuasa Muharam? Di antara kemungkinannya adalah: Karena turun wahyu melalui Malaikat Jibril yang menyatakan bahwa kali ini mereka jujur, atau karena berita ini dibenarkan oleh orang-orang Yahudi yang masuk Islam semisal Abdullah bin Salam.
Wajibnya Puasa Asyura ini hanya berlaku satu kali yaitu pada tanggal 10 Muharam Tahun Ke-2 H. Rasulullah ﷺ sampai ke Madinah di bulan Rabiul Awal (berarti: setelah Muharam) tahun ke1 H, sehingga di tahun ke-1 H beliau belum melihat orang Yahudi berpuasa Asyura dan belum mewajibkannya kepada para sahabat. Adapun di tahun ke- 3 H dan seterusnya, Puasa Asyura sudah turun hukumnya menjadi sunnah muakkadah.
Di hari itu, seluruh sahabat diperintahkan untuk berpuasa Asyura walaupun sudah terlanjur makan. Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Nabi memerintahkan seseorang dari Bani Aslam, untuk mengumumkan ke orang-orang bahwa barangsiapa yang sudah makan maka berpuasalah di sisa harinya, dan barangsiapa belum makan maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya hari ini adalah Hari Asyura”(HSR Bukhari). Orang sudah terlanjur makan tetap diperintahkan berpuasa dalam arti ‘menahan diri seolah juga berpuasa untuk menghormati Hari Asyura ini’.
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
📋 C. PUASA ASYURA MENJADI SUNNAH SETELAH PUASA RAMADAN DIWAJIBKAN
Setelah turun kewajiban Puasa Ramadan di tahun ke-2 H, hukum wajib Puasa Asyura turun menjadi Sunnah Muakkadah. Kewajiban Puasa Ramadan ditandai dengan turunnya ayat ke-183 dan 184 dari surat al Baqarah, yang diturunkan di bulan Syakban 2 H.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan: “…Lalu ketika puasa Ramadan diwajibkan, beliau meninggalkan (tidak mewajibkan puasa) hari Asyura, yang ingin berpuasa maka berpuasa dan yang ingin tidak berpuasa maka tidak berpuasa” (HSR Bukhari).
Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan Puasa Asyura:
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Adapun puasa di Hari Asyura, aku berharap agar (dengannya) Allah menghapus dosa setahun yang lalu” (HSR Muslim).
Mayoritas ulama mengatakan bahwa maksudnya ialah ‘menghapus dosa-dosa kecil’. Dan seandainya dosa kecil sudah habis karena amal lainnya, maka poin menghapus dosa kecil ini akan digunakan untuk mengikis dosa besar atau memperbesar pahala.
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
📋 D. RASULULLAH INGIN BERPUASA JUGA DI HARI TASUA (9 MUHARAM)
Setelah penaklukan Mekah (8 H) dan Islam menjadi dikenal di mana-mana, Rasulullah ﷺ ingin menyelisihi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Di antara bentuknya adalah dengan berpuasa Tasua dan Asyura, sebab orang Yahudi hanya berpuasa Asyura. Beliau bersabda di tahun terakhir hidup beliau (11 H):
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ
“Jika ada tahun depan, insyaAllah kita akan (juga) berpuasa hari ke-9 (Tasua)”. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Tahun depannya belum tiba hingga Rasulullah ﷺ wafat” (HSR Muslim).
Jadi, boleh untuk berpuasa Asyura saja, tetapi yang lebih utama adalah berpuasa Tasua dan Asyura.
Adapun hadits yang memerintahkan berpuasa hingga tanggal 11 Muharam:
خَالِفُوا الْيَهُوْدَ وَصُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا
“Berbedalah dengan Yahudi serta berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya” (HR Baihaqi), adalah hadits dhaif.
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
📚 Referensi:
– Al Jâmi’ al Muḥarrar fi Aḥkâm ‘Âsyûrâ` wa al Muḥarram karya Syaikh Muhammad Anwar Mursal hal. 88-89
– Al Kawâkib ad Darâri fi Syarḥ Shaḥîḥ al Bukhâri karya Imam Kirmani IX/150-151
– Al Majmû’ Syarḥ al Muadzdzab karya Imam Nawawi VI/251
– Al Minhâj Syarḥ Shaḥîḥ Muslim Ibn al Ḥajjâj karya Imam Nawawi VIII/20
– Fatḥ al Bâri bi Syarḥ Shaḥîḥ al Bukhâri karya Imam al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani -cet. Dar Thaybah- V/436-437
– Jadâwil Syahrillâh al Muḥarram wa ‘Asyûrâ` karya Syaikh Badr bin Nayif ar Raghayyan hal. 4
– Risâlah fi Aḥâdîts Syahrillâh al Muḥarram karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih al Fauzan hal. 11 dan 14
– ‘Umdah al Qâri Syarḥ Shaḥîḥ al Bukhâri karya Imam Badruddin al ‘Aini XI/175
– Vetogate.com/4937668.
Share agar kamu dapat pahala jariyah
[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA, Sb070146130724].
