Kita pasti pernah mendengar mendengar seseorang mengutip sebuah hadits dengan kalimat yang agak berbeda dengan yang pernah kita dengar atau baca. Misalnya:
– Riwayat: Rasulullah ﷺ berwudu sekali sekali, dan: Rasulullah ﷺ berwudu dua kali dua kali
– Riwayat: Sesungguhnya yang baik itu adalah satu dari empat puluh enam bagian kenabian, dan: … tujuh puluh bagian kenabian
– Riwayat: مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ , مَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ , dan مَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ (ketiganya bermakna: Barangsiapa berdusta atas namaku -Rasulullah ﷺ)
– Riwayat: مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا (barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami) dan لَيْسَ مِنَّا مَنْ غَشَّ (bukan dari golongan kami orang yang menipu).
Jika orang mengutip hadits dengan kalimat yang agak berbeda dengan yang pernah kita dengar atau baca; bisa jadi salah satu pihak ada yang salah mengutip hadits, tetapi bisa jadi juga semua kutipan hadits tersebut benar (ada di kitab-kitab hadits) meskipun ada sedikit perbedaan redaksi kalimat.
Dalam rangkaian tulisan ini akan kami sampaikan beberapa sebab munculnya variasi lafal hadits.
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
📋 SEBAB PERTAMA: RASULULLAH ﷺ MELAKUKAN LEBIH DARI SEKALI
Terkadang Rasulullah ﷺ melakukan suatu amal lebih dari satu dengan cara yang bervariasi, sehingga memunculkan riwayat hadits yang bervariasi.
Contoh Pertama: Wudu
– Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dahulu Rasulullah ﷺ berwudu sekali sekali” (HSR Bukhari)
– ‘Abdullah bin Zaid mengatakan: “Dahulu Rasulullah ﷺ berwudu dua kali dua kali” (HSR Bukhari)
Contoh Kedua: Bacaan Tahiyyat
– Ibnu Mas’ud meriwayat bacaan tahiyyat Rasulullah ﷺ:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ …إلخ
– Ibnu ‘Abbas meriwayatkannya:
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ …إلخ
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
📚 Referensi Utama:
– Asbâb Ta’addud ar Riwâyât karya Dr. Syaraf al Qudhah dan Dr. Amin al Qudhah hal. 14-15.
Share agar kamu dapat pahala jariyah
[Tulisan ini pertama kali diposting di grup WA atas nama MTT PDM Kab. Blitar, K290245140923].
